JAKARTA--Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat akhirnya menyetujui RUU APBN 2010 untuk disahkan menjadi Undang - Undang Rabu (30/9). Meskipun demikian tekanan terhadap APBN 2010 diperkirakan akan cukup besar seiring dengan perbaikan ekonomi global.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ada beberapa faktor eksternal dan global yang harus diwaspadai dan dikelola dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Pertama dengan melonjaknya ekspansi fiskal dan monter yang dilakukan oleh hampir seluruh negara dunia dalam rangka memerangi krisis keuangan dan ekonomi global akan menimbulkan ancaman. Diantaranya meningkatnya liquiditas global secara pesat dan akan menyebabkan ancaman inflasi dunia pada jangka menengah (2010). "Ini yang harus diwaspadai," ujarnya saat sidang paripurna penetapan RUU APBN ,di gedung DPR/MPR Jakarta Rabu (30/9).
Sementara itu, penerbitan surat utang oleh banyak negara maju untuk membiayai stimulus fiskal dan perbaikan sektor perbankan akan menyebabkan terjadinya crowding out (Kompetisi) sumber pembiayaan defisit.
"Kedua Faktor inilah yang akan menyebabkan kecenderungan meningkatnya suku bunga internasional dan membuat tekanan pada biaya penerbitan surat berharga," kata dia.
Hal lain yakni menyangkut ketidakpastian harga minyak dunia. Meskipun G20 sudah disepakati suatu mekanisme dan pembahasan antara pihak produsen dan konsumen untuk pembentukan harga minyak dunia yang rasional, transparan dan tidak bergejolak secara acak namun perkembangannya tetap harus diwaspadai. "Kita tetap perlu waspada terhadap ketidakpastian harga minyak ini karena akan memberikan tekanan pada APBN," paparnya.
Soal kenaikan harga BBM pada 2010 pun melihat dari situasi dan kondisi yang ada. Saat ini belum bisa dipastikan karena kecenderungan harga minyak dunia yang bisa berubah sewaktu-waktu. Tapi pemerintah pada 2010 nanti tetap akan memberikan fokus pada kesejahtraan rakyat. Menjaga pemulihan ekonomi yang kini masih terus berjalan.
Pada APBN 2010, lanjut nya, DPR memberikan celah bagi pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Kenaikan dapat dilakukan jika harga minyak dunia naik hingga 10 persen dari asumsi APBN 65 US Dolar per barel. "DPR memberikan itu melihat harga Internasional. Kita akan lihat itu secara hati-hati saja," terang dia.
Anggota Komisi XI Harry Azhar Aziz mengungkapkan daya tahan APBN pada 2010 memang tergantung oleh harga minyak dunia Internasional. Karenanya kemungkinan harga minyak naik juga dapat dilakukan jika perkiraan harga rata-rata minyak mentah Indonesia dalam satu tahun mengalami kenaikan 10 persen. Bila sesuai dengan postur saat ini, peningkatan sampai sekitar 71,5 US Dolar per barel.
"Ini untuk mengurangi beban pada APBN. Tapi kalo melihat kemampuannya APBN kita masih bisa menahan sampai 80 U Dolar per Barel," jelas dia.
Subsidi yang dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2010 akhirnya ditetapkan sebesar Rp 157,8 triliun.
Ketua Panita Anggaran Emir Moeis mengatakan besaran subsidi ini diantaranya sebesar Rp 51,293 triliun dialokasikan untuk subsidi non energi. Seperti Subsidi pangan sebesar Rp 11,4 triliun, subsidi pupuk sebesar Rp 11,3 triliun dan dana cadangan pupuk sebesar Rp 3,5 triliun.
Subsidi lainnya adalah berupa subsidi benih sebesar Rp 1,6 triliun, subsidi PSO sebesar Rp 1,4 triliun, subsidi bunga kredit program sebesar Rp 5,3 triliun dan subsidi pajak ditanggung pemerintah (DTP) adalah sebesar Rp 16,9 triliun.
"Pemerintah dalam pengalokasian ini diminta agar memprioritaskan penggunaan pupuk organik, baik melalui subsidi pupuk maupun bantuan langsung pupuk organik," jelas Emir
Sementara untuk alokasi subsidi BBM, LPG, dan BBN adalah sebesar Rp 68,7 triliun. Subsidi ini sudah dengan menghitung besaran alpha BBM rata-rata Rp 556,0 per liter.
"Namun disini kami meminta dengan catatan koreksi subsidi BBM tahun buku 2003, 2004, dan 2005 untuk dilakukan audit oleh BPK," ujar Emir
Kemudian untuk Subsidi listrik disepakati sebesar Rp 37,8 triliun dengan margin yang diberikan kepada PT PLN dalam ranga pelaksanaan PSO TA 2010 termasuk tahun anggaran 2009 adalah sebesar 5 persen. thr/ahi