DR. HARRY AZHAR AZIS, MA | WAKIL KETUA KOMISI XI DPR RI I DPP GOLKAR 2009 - 2015
Populer dilihat
Situs lain
WIRAUSAHA MUDA YANG MENGEMBANGKAN INDUSTRI

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Yth Menteri Perindustrian RI,

Yth Ketua, Pimpinan dan Staf Akademi Pimpinan Perusahaan Depperin RI,

Yth Bapak Ibu Dosen, Para Orang Tua dan Keluarga Wisudawan/wati,

Yth Calon Wisudawan/wati, Civitas Akademika dan Tamu Undangan.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera untuk kita semua,

Pada saat berbahagia ini, izinkan saya mengajak hadirin bersyukur kehadirat Tuhan YME, Allah SWT, atas kesempatan mengikuti peristiwa melepas wisudawan/wati, mengantar mereka dari kehidupan teori ke kehidupan riel masyarakat.


Perkenankanlah saya menyampaikan orasi bertema Wirausaha Muda yang Mengembangkan Industri semoga memberi bekal tambahan bagi wisudawan/wati sebelum melangkah ke luar kampus mengabdikan ilmunya.


Hadirin Yang Berbahagia,


Pembangunan industri adalah bagian integral pembangunan ekonomi yang harus dijalankan terpadu dan berkelanjutan sehingga bermanfaat besar bagi masyarakat. Arti penting perindustrian terhadap perkembangan ekonomi tertuang dalam undang-undang No 25 tahun 2001 tentang program pembangunan ekonomi nasional mengamanatkan peningkatan daya saing global dirumuskan lima strategi: pengembangan ekspor, pengembangan industri, penguatan institusi pasar, pengembangan pariwisata dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi.


Berdasarkan itu, perkembangan industri perlu memperhatikan persaingan ketat baik pasar dalam negeri dan ekspor dalam era globalisasi dan liberalisasi perdagangan dunia. Hal ini dipertegas dalam konsideran UU Perindustrian Nomor 5/1984 yang menyatakan untuk mencapai sasaran pembangunan bidang ekonomi, industri memegang peranan penting dengan memperhatikan partisipasi masyarakat serta mendayagunakan optimal sumber daya alam, manusia, dan dana yang tersedia.


Tujuan akhir pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan kemakmuran masyarakat dengan indikator tingkat pengangguran, kemiskinan dan kesenjangan ekonomi menjadi lebih baik. Target pemerintah tahun 2014, angka ini menjadi 5-6% dari 8,1% (2009). Pengangguran Jawa, khususnya Jakarta, Banten, dan Jawa Barat lebih tinggi dibanding kawasan lain, di atas 10% tahun 2007 dan 2008. Ancaman pengangguran juga melanda kelompok terdidik. Tahun 2008, BPS menyebut pengangguran Sarjana 12,6%, Diploma III sebesar 11,2%, SMK 17,2%, SMU 14,3%, SMP 9,4% dan SD/tidak sekolah 4,6%. Dari sisi umur, 2/3 penganggur berusia muda.


Data jumlah penganggur kalangan terdidik sampai Februari 2009 mencapai 1,1 juta orang, yang meningkat hampir dua kali angka 2004 atau 585 ribu orang. Pengangguran terdidik meningkat menjadi 12 % Februari 2009, naik dari angka 5,7% tahun 2004. Ironisnya, peningkatan penganggur terdidik justru bertolak belakang dengan tren menurun pengangguran secara keseluruhan, baik persentase dan absolut. BPS menunjukkan persentase pengangguran menurun dari 9.9% (2004), 9,7% (2008) menjadi 8,1% (2009). Jumlah penganggur turun dari 10,25 juta orang pada 2004 menjadi 9,26 juta orang pada 2009. Tiap tahun Indonesia memproduksi 300.000 sarjana dari 2900 perguruan tinggi. Sampai tahun 2009, APP Departemen Perindustrian menghasilkan 15.896 lulusan, termasuk 607 orang yang diwisuda saat ini.


Kondisi ini diperburuk dengan krisis dan resesi global. Lulusan perguruan tinggi makin sulit mendapat pekerjaan karena ekspansi usaha yang terbatas. Data Depnakertrans (2009) menunjukan bahwa per 1 mei 2009 sebanyak 51.355 pekerja terkena PHK, 28.017 orang direncanakan di PHK, 22.440 dirumahkan, dan 19.191 orang direncanakan akan dirumahkan. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) perkirakan mulai tahun 2010 imbas perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) ASEAN China (AC-FTA) akan berimbas pada pemutusan hubungan kerja hingga 7,5 juta orang jika pemerintah tidak berupaya antisipasi nyata dalam meredam dampak terburuk dari FTA. Di samping itu, aktivitas kewirausahaan di Indonesia relatif masih rendah memberi dampak peningkatan lapangan kerja. Hal ini mengisyaratkan betapa masalah pengangguran memang masalah sangat serius.


Pengangguran adalah masalah kita bersama dan tanggungjawab pemerintah untuk menciptakan iklim usaha bagi penganggur terdidik. Kesempatan membuka usaha memang terpulang bagi terdidik yang belum bekerja. Kesempatan selalu terbuka untuk berwirausaha, baik perorangan maupun kelompok. Bila ada kemauan, kesempatan terbuka. Siapa saja dapat menjadikan wirausaha menjadi pilihan masa depan. Tahun 2008, UMKM tumbuh 2,9%. Angka ini menjelaskan peluang besar mengembangkan UMKM. Bentuknya, dari sektor manufaktur, jasa hingga pertanian. Di sektor manufaktur, industri rumah tangga cukup dominan, khususnya alas kaki, pakaian, maupun pengolahan makanan. Di sektor jasa, jasa transportasi, perdagangan dan restoran serta teknologi informasi. Di sektor pertanian, usaha perkebunan, perikanan serta tanaman bahan makanan non-padi terbuka pasar yang luas.


Bila kita tilik perekonomian negara maju dan mapan, ternyata bisnis skala menengah ke bawah memberi sumbangan terbesar bagi penciptaan lapangan kerja. Tak heran jika negara-negara yang memiliki perusahaan kecil menengah yang kuat seperti US dan Taiwan relatif lebih kuat dalam menghadapi badai krisis ekonomi.

Menurut statistik, jumlah wirausahan di Indonesia sangat minim. Pada 2007, baru tercatat 0,18 % atau 400.000 dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta. Sebagai pembanding, jumlah wirausahawan di Amerika Serikat mencapai 2,14 % pada 1983. Bahkan di Singapura, berdasarkan laporan Global Entrepreneurship Moneter (2005), jumlah entrepreneur 2,1% (2001) menjadi 7,2 % (2005). Bandingkan dengan Indonesia, untuk mengacu pada jumlah ideal 2% saja, seharusnya jumlah wirausahawan Indonesia 4,4 juta orang. Untuk menjadi negara yang dianggap makmur, Indonesia perlu tambahan paling sedikit 4 juta wirausahawan kemajuan bangsa.


Momentum inilah yang perlu dimanfaatkan lulusan APP dalam merencanakan masa depan cerah. Tidak lagi tergantung pada dunia kerja dengan mencari pekerjaan tapi mengandalkan kemampuan diri sendiri dengan bekal yang telah diperoleh selama menimba ilmu di APP untuk menjadi wirausaha muda yang mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Kenyataannya, hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia termasuk APP sedang gencar-gencarnya memfasilitasi berbagai bentuk pelatihan kewirausahaan. Kini, tak hanya riset teknologi yang menjadi sorotan utama melainkan pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai pengimbang pesatnya perkembangan teknologi.


Hadirin Yang Berbahagia,


Kewirausahaan atau entrepreneurship pertama kali diperkenalkan pada abad 18 dengan tujuan utamanya pertumbuhan dan perluasan organisasi melalui inovasi dan kreatifitas. Pengertian kewirausahaan relatif berbeda-beda dengan titik berat perhatian atau penekanan yang berbeda seperti peciptaan organisasi baru (Gartner, 1988), menjalankan kegiatan yang baru (Schumpeter, 1934), eksplorasi berbagai peluang (Kirzner, 1973), menghadapi ketidakpastian (Knight, 1921) dan mendapatkan secara bersama faktor-faktor produksi (Say, 1803). Secara sederhana kewirausahaan adalah proses kreatifitas dan inovasi yang memiliki resiko tinggi dalam menghasilkan nilai tambah bagi produk yang bermanfaat untuk masyarakat dan mendatangkan keuntungan bagi wirausaha.


Dari pengertian tersebut terlihat jelas bahwa kewirausahaan tidak diperuntukan untuk individu berbakat saja, tapi dapat dipelajari oleh siapa saja yang mempunyai keinginan. Bahkan William Danko menyatakan bahwa seorang wirausahawan memiliki kesempatan 4 kali lebih besar untuk menjadi milyuner. Hal ini didukung oleh data majalah forbes yang memaparkan 75% dari 400 orang milyuner Amerika berprofesi sebagai wirausahawan. Fakta membuktikan banyak wirausahawan sukses berawal dari usaha kecil juga ikut mentasbihkan kewirausahaan sebagai pilihan tepat bagi individu yang tertantang menciptakan lapangan pekerjaan, bukan mencari kerja.


Menurut Joseph Schumpeter, entrepreneur is a person who perceives an opportunity and creates an organization to pursue it (Bygrave, 1994). Wirausahawan adalah orang yang melihat adanya peluang, kemudian menciptakan organisasi untuk memanfaatkan peluang itu. Dan & Bradstreet business credit service (1993) mengemukakan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan diantaranya: mengetahui usaha apa yang akan dilakukan, mengetahui dasar pengelolaan bisnis, memiliki modal yang cukup, memiliki jiwa pengusaha, kemampuan mengelola keuangan, kemampuan manajemen waktu, manajemen orang, kepuasan pelanggan, kemampuan strategi dan aturan yang jelas. Lebih lanjut, Meredith, Geofferey G (2002) mengemukakan jiwa dan sikap hakiki seorang wirausaha yaitu percaya diri, berorientasi proses dan hasil, keberanian mengambil resiko, kepemimpinan, berorientasi masa depan, kreatifitas dan inovasi orisinil yang tercermin dalam innovational personality seperti yang dikemukakan Everett E. Hagen (2003) yang meliputi sikap openness to experience, creative immagination, confidence, satisfaction in facing and attacking problems, has a duty or responsibility to achieve, intelligence and energetic.


Melalui kewirausahaan akan muncul banyak manfaat seperti menambah daya tampung tenaga kerja, sebagai generator pembangunan lingkungan di bidang produksi, distribusi dan kesejahteraan, menjadi pribadi unggul yang diteladani, memelihara keserasian lingkungan, menjadi contoh sebagai pekerja keras, mendidik karyawan menjadi mandiri, menolong orang lain sekaligus sebagai pejuang ekonomi meningkatkan ketahanan nasional dan mengurangi ketergantungan kepada negara lain.


Kewirausahaan merupakan masalah perekonomian bangsa membangun. Kemajuan atau kemunduran ekonomi bangsa ditentukan peranan kelompok wirausahawan. Tak salah jika tantangan perguruan tinggi indonesia ke depan adalah melahirkan wirausahawan muda. Selain dukungan keluarga dan perguruan tinggi, wirausahawan muda juga membutuhkan peran dunia usaha dan lembaga dunia usaha misalnya HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia). Organisasi ini diharapkan mendorong lahirnya pengusaha kaya dengan modal besar dan sekaligus mendorong munculnya pengusaha kecil yang bergerak dalam sektor kecil dan mikro (UMKM). Sektor UMKM Indonesia cukup menjanjikan karena 95% (43 juta) adalah sektor usaha mikro yang menunjukan potensi besar. Kemampuan UMKM bertahan terbukti pada pada masa krisis 1997-1998. Selama 1997-2006, jumlah perusahaan berskala UMKM mencapai 99% dari keseluruhan unit usaha Indonesia. Sumbangan UMKM terhadap PDB mencapai 54%-57%. Sebanyak 91% UMKM melakukan kegiatan ekspor melalui pihak ketiga eksportir dan hanya 8,8% yang berhubungan langsung dengan pembeli/importir di luar negri.


Survei Biro Pusat Statistik (BPS) pada 2007 menunjukan kontribusi UMKM terhadap PDB nasional meningkat dibandingkan tahun 2006. Dari total PDB nasional mencapai Rp. 3.957,4T, UMKM menyumbangkan Rp 2.121,3T. Angka ini naik dari total PDB yang disumbangkan UMKM pada 2006 sebesar Rp. 1.786,2T. Peran UMKM menyerap tenaga kerja juga sangat signifikan. Selama 1997-2006, sektor ini mampu menyerap hampir 96% tenaga kerja. Pada 2009 pertumbuhan UMKM 10%. Ini disebabkan tingginya PHK akibat krisis keuangan global membuat mereka menjadi wirausahawan.


Tumbuhnya optimisme, berdasar analisis Fokus Global bulanan Standard Chartered Bank, pada 2010 adalah tahun pemulihan ekonomi global yang memberi angin segar pemulihan ekonomi Indonesia. Tahun 2010, ekonomi China dan India akan tumbuh 10% dan 7,5%, sedangkan ekonomi Indonesia diprediksi mencapai 5,3% (analisis ekonomi BNI) atau 5,5% (APBN 2010). China, India, dan Indonesia merupakan negara di garis depan untuk pemulihan krisis karena kekuatan ekonomi domestik yang tinggi.


Namum optimisme ini harus diiringi upaya pemerintah menumbuhkan produktivitas sektor riel sehingga menjadi motor pertumbuhan ekonomi di masa mendatang. Pemerintah harus lebih banyak menelurkan program yang mendorong kemudahan berbisnis (doing business) dan kemudahan memulai bisnis baru (starting business). Dalam hal ini, pemerintah telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Percepatan Pelayanan Perizinan dan Nonperizinan, yang ditandatangani empat menteri (Menteri Perdagangan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Hukum dan HAM) dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), 16 Desember 2009. SKB itu mengatur dua hal, yaitu percepatan proses pembuatan izin membuka usaha baru dari sebelumnya 60 hari kerja menjadi 17 hari kerja, dan dimulai sistem pelayanan izin usaha satu atap secara elektronik memangkas 70 jenis perizinan.


Kebijakan itu membawa angin segar bagi investor, pengusaha dan calon pengusaha terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Seperti diketahui, sejauh ini perkembangan usaha khususnya UMKM di Indonesia masih tersendat. Dengan demikian diharapkan tumbuh para pengusaha muda UMKM dan koperasi di tahun mendatang. Diharapkan menyerap tenaga kerja dan angka pengangguran turun.


Perkembangan industri kreatif, banyak dimotori kaum muda, menambah pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Indonesia memiliki sumber daya kreatif. Kemampuan kreativitas itu harus dipupuk dan jangan pudar. Kemampuan itulah yang membuat UMKM Indonesia bangkit dengan cepat saat krisis 1998. Diperkirakan, pasar dan SDM kreatif Indonesia mencapai 47% dari total penduduk. Dengan SDM sebesar itu, industri kreatif Indonesia mampu membuka 5,4 juta lapangan kerja dan berkontribusi 6,3% atasPDB. Jika pada 2008 PDB Rp4.954T, industri kreatif berkontribusi Rp 312T.


Hadirin Yang Berbahagia,


Kecenderungan perusahaan raksasa merampingkan struktur organisasinya memberi gambaran bisnis kewirausahaan akan terus berkembang. Fakta ini mengubah pandangan generasi X tentang kewirausahaan. Douglas Coupland, dalam bukunya "Generation X: Tales for an Accelerated Culture", pertama kali mempopulerkan generasi X sebagai generasi berumur 20-30an tahun yang hidup di lingkungan yang serba ada dan berubah pesat. Generasi ini tidak lagi melihat kewirausahaan sebagai jalur karir yang penuh resiko namun melihatnya sebagai cara menciptakan usaha yang aman dan memberi kebebasan waktu dan finansial. Berbekal hal ini, program kewirausahaan yang saat ini gencar dilakukan hampir seluruh perguruan tinggi diharapkan dapat mengatasi pengangguran terdidik dan memotivasi mahasiswa terjun langsung menjadi wirausaha muda yang mandiri.


Pertanyaan pokok bagi pemula adalah bagaimana memulai suatu usaha? Walau minimal pengalaman, dengan ilmu, semangat dan stamina wirausaha terbuka luas, mereka yang berhasil adalah yang selalu mencari peluang bangun kembali dari setiap mengalami jatuh. Inilah inti enterpreneurship! Mulailah dari kecil dan lakukan sendiri.

Setidaknya terdapat tiga bidang yang perlu dikuasai seorang wirausahawan. Pertama, manajemen keuangan terutama manajemen resiko dan cash flow. Manajemen resiko dan cash flow layak mendapat prioritas karena persentase mandeg bagi usaha baru sangat tinggi, apalagi dengan modal terbatas. Banyak bukti kegagalan sebuah usaha baru terjadi karena kehabisan dana sebelum dikenal luas. Untuk mengatasinya, perlu menjaga fleksibilitas. Lakukan analisis awal mendalam, riset pasar walau secara kasar. Kenali pasar terutama selera konsumen, kondisi kompetisi, dan regulasi yang berlaku.


Kedua, penyusunan strategi, terutama strategi differentiation dan pemasaran. Kenali kekuatan bisnis dan kompetitor. Bisnis yang kita lakukan harus lebih baik dan sulit ditiru kompetitor. Ketiga, harus kuasai inovasi. Joseph Schumpeter berpendapat bahwa inovasi selalu membawa perkembangan dan perubahan ekonomi. Inovasi tidak perlu temuan yang luar biasa, tetapi yang menyebabkan sumber ekonomi lebih produktif. Bila manajemen resiko membantu agar usaha kita bisa berkembang dalam waktu singkat, strategi differentiation memperpanjang hidup usaha jangka menengah, maka inovasi akan memperpanjang usia hidup usaha secara jangka panjang. Strategi differentiation sebagus apapun tidak ada yang kekal. Hanya masalah waktu sebelum para kompetitor masuk dan meniru rahasia sukses kita. Inovasi harus terus menerus bila usaha kita ingin terus hidup. Dalam sisi ini, sektor UMKM memiliki keunggulan dalam inovasi yaitu kegesitannya dalam mengimplementasikan ide inovatif dibanding perusahaaan besar yang birokratis. Manfaatkanlah kelebihan tersebut. Jadilah Wirausaha Muda yang mandiri dan mampu mengembangkan Industri di Indonesia.


Mengakhiri orasi ilmiah ini, saya ucapkan “SELAMAT DAN SUKSES” kepada wisudawan wisudawati. Semoga Tuhan YME meridhoi kita semua membangun yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga dan bangsa kita. Amien.


Jakarta, 25 Maret 2010

Dr. Harry Azhar Azis, MA

Ketua Badan Anggaran DPR RI

| Created by : Admin | Viewed : 4212
Form Komentar
Name:
Email:
Display email Yes No
Homepage:
Subject:
Message:
Verification:
Feb 2012
Sun Mon Tue Wed Thur Fri Sat
1234
567891011
12131415161718
19202122232425
26272829
Agenda
Artikel
Visitor
Today : 605
Yesterday : 790
This month : 14000
This year : 37847
All : 418622
Terbaru